If you wanna be rich..


Silahkan menjawab pertanyaan dibawah sebagai awal dari sebuah
cerita…

Pertanyaan pertama : siapa yang MAU menjadi kaya ?
Semua orang pasti akan angkat tangan.

Pertanyaan kedua : siapa yang BERUSAHA utk menjadi kaya ? Hanya
sebagian saja yang angkat tangan.

Pertanyaan ketiga : Siapa yang SUDAH kaya ?
Jumlah yang angkat tangan lebih sedikit lagi.

Apa yang salah disini ?

Pada pertanyaan pertama, orang hanya ditawari saja suatu keadaan.
Tidak sulit, karena mereka tinggal bilang mau atau tidak. Pada
pertanyaan kedua, sudah menjurus ke tindakan yang akan anda lakukan
untuk mencapai pertanyaan pertama tersebut. Disini orang yang
menjawab positif tidak sebanyak di pertanyaan pertama. Macam-macam
penyebabnya. Mengapa ?

Orang mau kaya secara cepat, kalau bisa secara instan tanpa perlu
bekerja keras. Alasan kedua, mereka mau bekerja keras, tapi “not in
the right track” sehingga kerja keras mereka tidak membuahkan hasil
sesuai yang diharapkan. Alasan ketiga, mereka tidak tahu harus
memulai dari mana, alasan terakhir mereka merasa cukup hidup yang
biasa-biasa saja, tidak perlu terlalu ambisius.”Ora usah ngoyo”,
begitu kata orang jawa.

Pada pertanyaan ketiga adalah pada hasil, apakah hasil kerja anda di
pertanyaan kedua membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya orang yang
sudah berhasil di pertanyaan kedua yang bisa ikut angkat tangan
disini. Sebenarnya, gimana sih cara untuk menjadi kaya, terutama
secara mudah kalau bisa ? saya juga mau ^_^

Ada beberapa cara untuk kaya secara mudah. Yang pertama adalah lahir
sebagai anak orang kaya. Jadi berbahagialah anda yang lahir dengn
nama belakang Onasis dan Hilton. Karena begitu lahir anda cukup
angkat tangan untuk menjawab pertanyaan ketiga saja.

Yang kedua adalah Kawin dengan anak orang kaya. Namun apabila anda
sudah menikah dan tidak mendapatkan “kesempatan” ini, anda bisa
dengan cara ketiga, yaitu mempunyai menantu orang kaya. Masih ada
beberapa cara lain, namun yang berikut lebih mengandalkan dewi
fortuna, misalnya anda menang undian atau dapat warisan mendadak
dari keluarga. Kalau dari semua cara tersebut anda tidak berhasil,
berarti anda memang harus menggapai melalui jalur kerja keras.

Cara ketiga yang menarik dan Halal. Bertemu dengan orang yang tepat.
Kerja keras (hard work) saja tidak menjamin orang menjadi kaya.
Perlu juga di imbangi dengan kerja cerdas (smart work). Orang yang
tepat adalah orang yang bersedia menjadi mentor kita, serta mau
membimbing kita. Tentunya dia sendiri juga sudah kaya, jadi
bimbingan yang diberikan bukan cuma teori saja, tapi juga
pengalaman. Pengalaman itu mahal harganya, karena dengan belajar
dari pengalaman orang lain anda akan terhindar dari “lubang jebakan”
kegagalan.

Dalam kehidupan sehari-hari ini, seperti apa sih orang yang tepat
itu ? tidak mudah memang menemukan orang yang tepat. kalaupun
misalnya anda sudah ketemu denga orangnya. belum tentu juga dia mau
membimbing anda. Orang yang tepat tidaklah selalu membimbing anda
secara langsung, bisa juga teknik, sistem, prinsip, kisah sukses
orang lain, tokoh idola, maupun suatu kebijaksanaan (wisdom).

Tidak usah berfikir terlalu rumit, mulailah dari sekitar anda saja.
Adakah suatu kebijakan atau seseorang yang sudah sukses yang bisa
anda contoh ? kalau ada cobalah untuk mengamati bagaimana proses
yang dia lakukan selama ini.

Lalu bagaimana mengetahui bahwa prinsip atau mentor yang akan kita
contoh itu tepat? Just Do It, seperti kata Nike.Lakukan saja. Dan,
jangan pula takut gagal, karena kita akan lebih banyak belajar dari
kegagalan daripada keberhasilan. tidak ada kesuksesan tanpa
kegagalan ataupun pengorbanan. Kita bisa belajar banyak dari mentor
ataupun pengalaman orang -orang sukses bagaimana mereka mencapainya.

Semoga Bermanfaat ^_^

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA


Uang seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian. Perselisihan mengenai keuangan bisa saja terjadi disaat uang melimpah maupun disaat kekurangan uang. Masyarakat Indonesia merasa risih bila harus membicarakan masalah keuangan dalam keluarga. Oleh karena itu kami merasa perlu untuk terus menyerukan kepada semua kalangan masyarakat terutama pasangan suami istri untuk belajar saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Kami sangat percaya bahwa setiap orang memiliki pandangan mengenai uang yang berbeda-beda karena suami atau istri dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kegagalan dalam membicarakan soal uang di dalam keluarga berpotensi menimbulkan permasalahan.

Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun menurut hemat kami, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Kalangan ini pernah berpikir, Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga belarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.

Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan yang bisa Anda pilih sesuai dengan keinginan Anda bersama pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada. Hal terpenting disini adalah saling keterbukaan serta menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab bersama.

1. Uang bersama dan Sistem Amplop
Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi ayah-ibu dan liburan pun jadi amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi account bersama di bank untuk ‘menampung’ sisa amplop setiap bulannya.

2. Membagi Berdasar Persentase
Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau persentase Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan dihitung termasuk pos darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut. Sisanya digunakan sebagai tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa menghitung kebutuhan keluarga terlebih dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing “menyetor” 80 persen dari gajinya. Sisa 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, di samping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.

3. Membagi Tanggung Jawab
Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan “berat”, seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan mobil, dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan lebih besar, tentunya hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya.

Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menjadi masalah dalam keluarga.

Kalau istri tidak bekerja? Bagaimana?
Ketiga contoh diatas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara regular setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?

Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga Anda tentunya akan sangat baik bila Anda dan pasangan Anda membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda sebagai suami karena bekerja yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja regular bulanan sampai alokasi tabungan (dari pendapatan suami) untuk berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang dimiliki. Dalam hal ini istri harusnya seperti manejer dalam sebuah perusahaan.

Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan istri. Karena kedua individu dalam keluarga tersebut memiliki tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.

Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama
Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasagan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.

Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.

Hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. Dimana dengan tujuan yang Anda dan pasangan tentukan akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang dimiliki. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga.

Demikianlah ulasan singkat seputar uang dalam kaitannya dengan hubungan suami istri di dalam keluarga. Semoga memberikan masukan dan tambahan ilmu bagi Anda

Kiat Menambah Keuangan Keluarga

Semua orang pasti mengenal yang namanya Bill Gates, J.K. Rowling atau David Beckham. Mereka terkenal sebagai orang yang kaya di bidang masing-masing. Tetapi bagaimana mereka bisa sukses dan kaya? Saya yakin pasti Anda akan berkata Bill Gates kaya karena memiliki Microsoft, J.K. Rowling karena bisa menulis buku laris Harry Potter, dan David Beckham karena ahli dalam permainan sepak bola.

Mereka mendapatkannya bukan karena memiliki modal uang. Mereka bukan anak orang kaya yang mewariskan banyak uang. Bahkan J.K. Rowling adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang telah berkali-kali keluar masuk tempat kerja karena selalu tidak beres kerjanya.

Jadi, apa yang membuat mereka berhasil? Mereka memiliki sesuatu yang diberikan Tuhan yang membuat mereka berbeda dari yang lain.

Ada 4 langkah yang bisa Anda kembangkan:
Pergunakan Keahlian
Untuk mencari penghasilan tambahan, jangan terpaku dengan uang. Kita semua diberi kelebihan oleh Tuhan. Apa keahlian Anda? Kalau Bill Gates bisa membuat program, mungkin Anda pintar mereparasi atau membetulkannya. Kalau David Beckham pintar bermain bola, mungkin Anda ahli bermain tenis. Kenapa semua keahlian itu tidak dikembangkan? Ingat, keberhasilan mereka bukan karena memulainya dengan uang tapi dari keahlian yang mereka kuasai.
Jadi, langkah pertama yang bisa Anda lakukan adalah gunakan keahlian Anda.
Kembangkan Hobi
Punya hobi menarik? Kenapa tidak menjadikannya sebagai dasar untuk mendapatkan penghasilan? Seorang ibu di tempat saya tinggal sangat menyenangi bunga. Ia selalu merawat bunga-bunga tersebut dengan cermat sehingga bunga-bunga peliharaannya menjadi sangat indah dilihat. Tiap minggu ia mempersembahkan sebagian hasil kebunnya itu untuk menjadi bunga penghias altar gereja. Tanpa diduga, bunga itu menarik perhatian seorang pedagang bunga, dan saat ini ibu tersebut menjadi salah satu pemasok bunga di toko tersebut.
Jadi, langkah kedua adalah dengan memanfaatkan hobi.
Manfaatkan Aset
Mungkin Anda akan berkata bahwa saya tidak kaya sehingga tidak bisa menggunakan aset untuk menambah penghasilan. Tapi coba perhatikan apa yang ada di sekitar Anda. Tetangga saya memanfaatkan petak tanah 1×3m di depan rumahnya untuk berjualan nasi kuning. Apakah berhasil? Tentu saja. Sebab aset yang dia miliki hanya sebagai pendukung. Pelayanan, rasa, dan keramahan penjual menjadi nilai jualannya yang utama. Langkah ketiga yang bisa Anda gunakan adalah manfaatkan aset.
Manfaatkan Waktu
Waktu adalah kekayaan yang diberikan Allah. Kita semua diberikan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tapi, seberapa besar kita telah memanfaatkan pemberian Allah itu? Pergunakan waktu luang Anda. Kalau Rowling bisa menggunakan waktunya untuk mengkhayal dan kemudian menjadikannya sebuah buku, kenapa Anda tidak bisa? Kalau Beckham bisa menggunakan waktu luangnya untuk meningkatkan keahliannya bersepak bola, kenapa Anda tidak? Cobalah pergunakan waktu Anda dengan maksimal. Mengajar, melatih tenis atau mungkin menjadi broker, adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan.
Jadi, langkah keempat adalah maksimalkan waktu Anda

Akhirnya, mendapatkan penghasilan tambahan bukanlah masalah berapa besar uang yang harus dimiliki. Dengan keahlian, hobi, aset, dan waktu yang kita kelola dengan maksimal, penghasilan tambahan bisa kita ciptakan. Raja Salomo berhasil mengembangkan dan membesarkan kerajaannya bukan dari kekayaan, tapi dari hikmat yang dilimpahkan kepadanya. Anda pun bisa!
Selamat mencari penghasilan tambahan.

Mari Berhemat!!!

Banyak orang berpikir hemat itu, benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Awalnya pun, saya berpikiran yang sama. Tapi ternyata banyak hal di sekitar kita yang bisa dimulai sebagai proyek hemat:-)

Saya mulai dengan beberapa hal yang saya lakukan ya…
Membuat Daftar Belanja bulanan
Ketimbang harus belanja tiap minggu, atau setiap stok habis… Ada baiknya jika kita melakukan belanja reguler. Bulanan atau dua mingguan.
Sebelum belanja, selalu gunakan catatan. Ide klasiknya adalah berusaha disiplin dengan daftar belanja yang kita buat. Dengan adanya daftar belanja, kalaupun melenceng, tidak terlalu jauh… ketimbang belanja tanpa daftar.

Hal lain yang saya lakukan adalah tidak melakukan penimbunan terlalu banyak:-)
Misalnya dalam 1 bulan, kami sekeluarga membutuhkan 1tube besar pasta gigi. Di dalam lemari stock, saya selalu menyediakan 1tube sebagai stok.
Jadi, untuk beberapa barang… jika dalam lemari jumlah persediaan adalah 1, artinya harus membeli.

Merencanakan menu satu minggu.
Dengan merencanakan menu keluarga untuk satu minggu, kita akan lebih mudah dan irit ketika belanja.

Memasak untuk keluarga, kadang menjadi beban tersendiri bagi seorang ibu. Saran saya, ketika merencanakan menu satu minggu… Olah-lah bahan-bahan mentah seperti ikan, ayam, atau daging menjadi menu siap masak.

Kebiasaan saya setiap habis belanja, semua bahan mentah saya potong2 sesuai dengan rencana menu, dan dimasukkan dalam plastik untuk menu satu kali masak. Jika memungkinkan langsung saya beri bumbu, sebelum dimasukkan ke dalam freezer.

Beralih ke produk yang lebih ekonomis
Terkadang, kita sebagai konsumen tergiur untuk membeli produk-produk yang iklannya ditayangkan di media. Padahal, produk yang melakukan iklan besar2an… bisa dipastikan harganyapun lebih tinggi.

Tidak ada salahnya jika kita beralih ke produk2 non-premium untuk beberapa kebutuhan rumah tangga. Beda harga produk ini mungkin hanya beberapa ratus rupiah, tapi itupun penghematan kan?

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, sesuai dengan pepatah lama:-)

Beli dalam kemasan besar
Produk-produk rumah tangga, biasanya tersedia dalam beberapa kemasan. Produk dengan kemasan jumbo, harganya sedikit lebih murah dibandingkan dengan produk dengan kemasan standard

Gak perlu malu untuk menghitung harga per 100gr atau per piece tiap produk untuk membandingkannya. Untuk hal ini, biasanya saya minta tolong suami :-)

Jangan fanatik pada satu merk (kalau bisa…)

Suami saya sering bilang… “Kalau semua konsumen seperti kamu, pasti banyak perusahaan yang bingung mencari target market”

Kenapa beliau berpendapat demikian?
Saya tidak fanatik dalam membeli diaper untuk anak:-) Menurut saya pribadi, saya cukup fanatik karena target saya hanya 3merk tertentu.
Hanya saja, jika bulan ini saya beli produk A, belum tentu bulan depan juga membeli produk yang sama. Bisa jadi B atau C. Tergantung produk mana yang sedang melakukan promo. Hihihi…

Next time saya akan menulis tentang cara hemat lain ya…
Selamat berhemat!!!

MENGAJARKAN ANAK MEMAHAMI NILAI UANG (2)

“Aduh, kecil-kecil sudah tahu uang…” terkadang pendapat itu sering kita dengar jika ada anak yang sudah tahu dengan uang berwarna apa ia bisa membeli sesuatu. Entah mainan atau makanan. Komentarnya terdengar agak miring, mengingat tidak pada tempatnya seorang anak kecil pandai ‘jajan’. Padahal, ungkapan itu bisa saja bernilai positif jika kita bisa membimbing anak-anak kita untuk lebih bisa memahami bagaimana membelanjakan uang dengan cara yang bijak dan pandai menyimpannya. Berikut adalah beberapa tips bagaimana membuat anak memperlakukan uang dengan cara bijak:
Sediakanlah celengan dengan bentuk yang unik. Perkenalkanlah aktifitas memasukkan uang ke dalam celengan sebagai kegiatan yang menyenangkan. Pada akhirnya nanti anda tidak bisa menaruh uang receh di sembarang tempat, karena pasti langsung raib dimasukkan ke dalam celengan oleh si kecil.

Ajak si kecil berbelanja. Biarkan mereka melihat cara kita berbelanja dengan disiplin pada catatan. Nantinya mereka akan mengerti, bahwa dengan berpegangan pada catatan, kita belajar untuk tidak ‘lapar mata’.

Perkenalkan suasana bank. Ajak mereka menabung di bank, sehingga mereka tahu, bahwa tempat menabung tidak hanya di celengan. Bahkan dengan suasana bank yang relatif asing tapi nyaman, mereka akan merasakan suasana baru yang menyenangkan saat menyimpan uang.

Saat anak menginginkan suatu mainan, buatlah mereka berfikir bahwa mereka harus mengumpulkan uang. Berilah mereka uang jajan, dan ajak mereka membuat suatu pilihan, apakah akan memuaskan nafsu sesaat dengan jajan, atau mau mengorbankan kesenangan sesaat itu dengan menabung, demi dapat membeli mainan.

Pada akhirnya, semua berpulang kepada kita sebagai orangtua, apakah kita mau memanjakan anak kita dengan segala kemudahan hidup, atau mau sedikit menahan diri demi menjadikan anak kita bijak memandang hidup.